⚡ LEVEL 1: TL;DR
- Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan, Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, angkat bicara soal isu THR yang kena potongan pajak.
- Menurut beliau, potongan PPh 21 atas THR idealnya ditanggung oleh perusahaan, bukan malah membebani para pekerja.
- Purbaya berharap para bos perusahaan berbesar hati untuk mengambil alih beban pajak ini, biar THR karyawan utuh.
🗣️ LEVEL 2: DEEP DIVE
UGANs, siapa sih yang nggak seneng dapat THR? Itu lho, uang tambahan yang dinanti-nanti pas momen Lebaran atau hari besar lainnya. Tapi, seringkali kebahagiaan itu sedikit terusik sama potongan pajak PPh 21 yang nempel di sana. Nah, kali ini ada angin segar dari Bapak Purbaya Yudhi Sadewa, Kepala BKF Kemenkeu!
Beliau dengan tegas bilang, kalau urusan potongan pajak THR ini, seharusnya para bos perusahaan yang tanggung. Bukan karyawan yang udah kerja keras dari pagi sampai sore. Pernyataan ini tentu bikin kita para pekerja di lapangan merasa sedikit terwakili. Gimana nggak? THR itu kan tunjangan, bonus atas jerih payah kita, masa iya masih harus dipotong-potong lagi?
Di tengah harga-harga kebutuhan pokok yang makin meroket dan biaya hidup yang nggak ada diskonnya, setiap rupiah itu berharga, UGANs. Kalau THR bisa diterima utuh tanpa potongan, tentu sangat membantu buat beli kebutuhan Lebaran, mudik, atau sekadar jajan kopi susu kekinian. Semoga suara Bapak Purbaya ini didengar dan direalisasikan oleh semua perusahaan di Indonesia, ya! Yuk, #SuaraRakyat kita kawal bareng!
✊ Suara Kita:
“Semoga para bos di luar sana mendengarkan suara rakyat dan bijak dalam mengelola THR. Jangan sampai hak pekerja jadi tumbal aturan pajak yang bikin mumet!”
Ide Bapak Purbaya sungguh mencerahkan, persis seperti janji-janji kesejahteraan yang selalu ‘mencerahkan’ rakyat. Semoga perusahaan seikhlas itu ya, Pak, menanggung beban yang harusnya ditanggung oleh sistem yang lebih adil. Kita sih sudah terbiasa ‘ikhlas’ dengan segalanya.
THR itu kan buat keluarga. Buat beli kebutuhan lebaran. Kalo dipotong pajak, ya berat buat rakyat kecil. Semoga para bos bisa ngerti dan pemerintah juga mikirin yang paling bawah. Amiin ya robbal alamin.
Halah, THR mau dipotong pajak?! Harga beras naik terus, minyak susah, bumbu dapur mahal. Ini malah mau ngurangin duit rakyat. Bilang suruh bos yang nanggung? Ya sama aja boong, ujungnya tetep kita yang tekor! Mikir, Pak!
THR kan buat napas sebentar dari himpitan ekonomi, Pak. Kalau dipotong pajak lagi, rasanya kok ya berat banget. Gaji UMR aja udah pas buat makan, cicilan, bayar kos. Tolonglah, jangan dibikin makin susah.
Anjir, THR dipotong pajak? Udah mana harga-harga lagi pada ‘menyala’ semua. Ini ide Purbaya sih cakep, tapi realisasinya gimana dong? Jangan-jangan cuma wacana doang, ujungnya kita lagi yang kena. Bro, mending THR buat jajan sama healing!
Wacana ini cuma trik biar rakyat tenang. Nanti ujung-ujungnya tetap dipotong, cuma dengan mekanisme lain. Atau jangan-jangan ini cuma ‘test the water’ untuk kebijakan yang lebih memberatkan. Selalu ada agenda tersembunyi di balik setiap kebijakan publik.
Pernyataan Purbaya ini, meski berniat baik, justru menyoroti betapa rapuhnya keadilan perpajakan kita. Seharusnya beban pajak lebih proporsional, tidak membebani pekerja yang rentan. Negara harusnya menjamin kesejahteraan, bukan malah menarik pendapatan dari yang paling membutuhkan.