Zapin Menggema di UNESCO: Diplomasi Budaya atau Pengalih Isu Elite?

🔥 Executive Summary:

  • Pengajuan Tari Zapin ke UNESCO oleh empat negara ASEAN (Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei) menandai kolaborasi budaya regional yang patut diapresiasi.
  • Di balik euforia budaya, patut diduga kuat bahwa momentum ini juga berpotensi menjadi strategi pencitraan bagi rezim di Indonesia dan Malaysia yang sedang menghadapi kritik atas rekam jejak korupsi dan kebijakan kontroversial.
  • Meskipun UNESCO berfungsi sebagai fasilitator netral, urgensi pengakuan budaya ini perlu dilihat lebih dalam dari sekadar simbolisme, yaitu pada dampak nyata pelestarian dan kesejahteraan seniman akar rumput.

Di tengah riuhnya dinamika geopolitik dan ekonomi global, sebuah kabar dari ranah budaya kembali menyita perhatian publik cerdas. Indonesia bersama tiga negara tetangga—Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam—secara kolektif mengajukan Tari Zapin untuk diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. Sebuah langkah diplomatis yang, di permukaan, tampak begitu mulia dalam upaya pelestarian khazanah nusantara. Namun, bagi Sisi Wacana, setiap manuver lintas negara ini selalu memantik pertanyaan fundamental: Apa yang sebenarnya tersembunyi di balik panggung megah budaya ini?

🔍 Bedah Fakta:

Langkah empat negara serumpun ini mengajukan Tari Zapin ke UNESCO adalah penegasan identitas budaya yang kuat, terutama di tengah arus globalisasi yang rentan mengikis tradisi lokal. Tari Zapin, dengan akarnya yang kaya akan perpaduan Melayu dan Arab, merepresentasikan jalinan sejarah panjang dan keragaman budaya di kawasan ini. UNESCO, sebagai institusi yang kredibel dalam pelestarian warisan budaya, menjadi platform ideal untuk mengangkat nilai-nilai luhur Zapin ke kancah internasional.

Namun, menurut analisis Sisi Wacana, kita tidak boleh abai terhadap konteks politik domestik dari negara-negara pengaju, khususnya Indonesia dan Malaysia. Dalam beberapa tahun terakhir, kedua pemerintah ini acapkali diterpa isu korupsi yang masif dan kebijakan publik yang menuai protes dari masyarakat. Kasus-kasus seperti korupsi pengadaan barang/jasa atau kebijakan agraria yang merugikan rakyat kecil masih hangat dalam ingatan publik.

Oleh karena itu, adalah hal yang wajar jika muncul spekulasi, “Apakah pengajuan budaya ini juga merupakan bagian dari upaya ‘soft diplomacy‘ untuk memperbaiki citra di mata internasional, sekaligus mengalihkan perhatian publik dari persoalan internal yang belum terselesaikan?” Manuver semacam ini bukanlah hal baru dalam arena politik.

Berikut perbandingan fokus perhatian publik dan elite:

Aspek Narasi Publik (Akar Rumput) Narasi Elite (Pemerintah RI & MY)
Fokus Utama Kesejahteraan ekonomi, transparansi tata kelola, keadilan sosial, pelestarian budaya autentik. Pencitraan internasional, stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi (seringkali pro-investor), pengakuan budaya global.
Urgensi Politik Penyelesaian kasus korupsi, kebijakan pro-rakyat, penegakan hukum. Diplomasi budaya, pembangunan infrastruktur megah, menarik investor asing, citra positif di UNESCO.
Potensi Keuntungan Apresiasi nyata terhadap seniman, anggaran pelestarian yang transparan, revitalisasi komunitas budaya. Peningkatan citra global, potensi pariwisata, legitimasi politik melalui simbolisme budaya.

Sementara UNESCO berdiri tegak sebagai organisasi tanpa catatan korupsi dan fokus pada misinya, pemerintah di tingkat nasional justru memiliki pekerjaan rumah yang menumpuk. Pertanyaannya, apakah semangat kolektif ini akan diikuti dengan komitmen yang sama untuk memberantas ‘penyakit’ struktural di dalam negeri? Atau, ini hanya menjadi ‘karpet merah’ yang menutupi noda-noda yang belum sempat dibersihkan?

đź’ˇ The Big Picture:

Pengajuan Tari Zapin ke UNESCO adalah pengingat penting tentang kekayaan budaya kita. Namun, ini juga menjadi ujian bagi para pemangku kebijakan. Pengakuan global harusnya berbanding lurus dengan komitmen lokal. Apa artinya sebuah warisan budaya diakui dunia jika para seniman dan pegiatnya di tingkat akar rumput masih berjuang dalam keterbatasan, atau bahkan terpinggirkan oleh kebijakan yang tidak berpihak?

Sisi Wacana menegaskan, pelestarian budaya sejati tidak berhenti pada seremoni atau piagam pengakuan. Ia harus termanifestasi dalam anggaran yang memadai, perlindungan hak-hak seniman, pendidikan budaya yang berkelanjutan, dan yang terpenting, tata kelola pemerintahan yang bersih dan transparan. Hanya dengan fondasi yang kuat inilah, apresiasi terhadap Zapin di panggung dunia tidak hanya menjadi kebanggaan sesaat, melainkan warisan abadi yang benar-benar mensejahterakan rakyat dan komunitas budaya yang menjadi penjaganya.

✊ Suara Kita:

“Pengakuan budaya global harus berbanding lurus dengan kesejahteraan seniman dan tata kelola bersih di tingkat lokal. Tanpa itu, piagam hanya jadi hiasan.”

3 thoughts on “Zapin Menggema di UNESCO: Diplomasi Budaya atau Pengalih Isu Elite?”

  1. Wah, patut diacungi jempol nih langkah *diplomasi budaya* ke UNESCO. Megah sekali melihat Zapin menggaung di kancah internasional. Tapi, seperti kata Sisi Wacana, mudah-mudahan bukan cuma jadi alat *pencitraan* sesaat doang ya, biar rapor merahnya pejabat bisa ketutup sebentar. Komitmen nyata buat rakyatnya itu loh yang dinanti, bukan cuma kilauan di panggung dunia.

    Reply
  2. Zapin Zapin! Nggak ngerti saya itu *pelestarian budaya* penting apa nggak. Yang penting itu harga cabai sama bawang di pasar. UNESCO UNESCO, lah wong *harga sembako* masih nangkring tinggi. Ini pejabat pada sibibuk tari-tarian, urusan dapur emak-emak pada mangkrak. Apa kabar itu janji-janji kesejahteraan? Bilangnya rakyat yang utama, tapi kok gini-gini aja.

    Reply
  3. Salut sih sama upaya mengakui Zapin. Memang penting *kesejahteraan seniman* itu. Tapi jujur aja, kadang mikir, kita yang kerja keras tiap hari banting tulang, *gaji UMR* pas-pasan, buat bayar cicilan pinjol aja udah megap-megap. Pengakuan internasional bagus, tapi kalau rakyat jelata masih kesulitan makan, rasanya kok agak ironis ya. Semoga bukan cuma di atas kertas aja komitmennya.

    Reply

Leave a Comment